Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Tidak terkategori’ Category

Random ajaaaaaa

Anak laki-laki itu tidak bisa berpikir dengan jernih, seolah ada sebentuk awan membayang di kepalanya, mencegahnya untuk bergerak bebas tanpa harus menghantam ego yang bergeletakan disana-sini. Delapan belas tahun umurnya, dengan postur tubuh yang proporsional dengan dua digit angka tersebut, dengan pikiran yang masih sarat akan emosi dan gejolak darah muda yang makin kental tiap harinya. Bahkan tanpa gumpalan awan yang terus membayang disitu, memang susah baginya untuk berpikir atau bertindak tanpa terpengaruh ego yang terus saja bergejolak. Dia mencoba tenang, sudah, tapi tak gampang. Darah lebih kental daripada air, memang. Dan darahnya yang masih belum matang itu menghalanginya untuk tetap tenang tanpa kalap oleh ego yang mendesak untuk dimenangkan, duh…

Dia mencintai gadis yang kini tengah menyandarkan kepalanya di lipatan tangannya. Ya, mereka berdua tengah berbaring di rerumputan yang masih basah oleh sisa embun pagi itu, berhadapan. Sang lelaki berbaring berbantalkan telapak tangannya sendiri, berhadapan dengan gadis yang menempati lipatan tangannya. Usia gadis itu tak jauh beda dengannya, mungkin hanya dalam hitungan bulan saja, menjadikan gadis itu sebagai sosok remaja yang sama, yang juga memiliki bermacam ego yang menuntut untuk dimenangkan juga. Dan disitulah mereka berbaring dalam diam, tak sanggup berkata apapun kecuali ego yang saling bertabrakan dan memancing friksi-friksi kecil di antara keduanya.

Pasangan remaja labil, mereka bilang…

Kisah di antara mereka mungkin baru terajut dalam setahun terakhir. Tapi keduanya sudah hidup jauh lebih lama daripada itu. Terbiasa untuk memenangkan ego masing-masing selama belasan tahun sebelumnya, membuat anak laki-laki serta gadisnya itu sejenak lupa bahwa mereka… telah menjadi merekakita… dan bahwa bentuk jamak itu berarti mereka harus melupakan ego masing-masing dan mulai memikirkan tentang kebahagiaan bersama. Tapi sekali lagi, mereka hanyalah remaja labil, masing-masing dengan keinginannya sendiri, masing-masing berharap pasangan mereka mengerti tentang itu, masing-masing menuntut untuk tidak dituntut, bahwa mereka ingin melakukan apa yang mereka inginkan… dan masing-masing merasa tersakiti ketika keinginan-keinginan itu justru memancing pertengkaran yang membuat mereka menjadi sebentuk egonya masing-masing…

… tanpa ada lagi mereka, tanpa ada lagi kita di antara keduanya.

Sang gadis ingin menggapai keinginannya yang tercetus sejak sebelum mereka bersama, pergi ke luar negri demi mencapai hal tersebut. Setelah mereka lulus sekolah, katanya… dan itu berarti hanya tinggal beberapa bulan saja. Di sisi lain, lelakinya sudah mempersiapkan rumah untuk mereka tinggali berdua selulusnya mereka dari sekolah ini, hidup mandiri hanya berdua. Ingin selalu bersama selamanya, katanya. Dua keinginan itu, ego yang tidak mungkin tercapai bila salah satu di antaranya tidak mau mengalah. Menjalankan keduanya? Ya, bisa saja mereka lakukan, tapi friksi itu akan memaksa mereka untuk berhenti mencintai, karena cinta bukanlah ego yang saling bertabrakan, tapi sesuatu yang lebih daripada itu.

… dan mereka diam, untuk waktu yang lama. Sang lelaki bisa melihat, betapa gadisnya itu sangat mencintainya, betapa pucuk hidung dihadapannya itu mulai memerah, betapa ekor kedua mata itu mulai berair. Dia merasa tersakiti melihat pemandangan itu. Selalu berusaha untuk membahagiakan sang gadis, ingat betul anak laki-laki itu berjanji kala meminta hati sang gadis untuknya. Tapi gadis itu justru tersakiti karena kebersamaan mereka, dan itu meyakitkan si lelaki… terlepas bahwa rasa sakit yang mereka rasakan merupakan bukti tak terbantahkan bahwa keduanya benar-benar saling menyayangi sepenuh hatinya masing-masing. Gadis itu pasti tidak akan merasa tersakiti ketika harus memilih antara studinya dengan laki-laki yang dicintainya. Pun demikian, anak laki-laki itu juga tak akan sesakit ini bila yang dihadapinya bukanlan gadis yang dicintainya.

Tapi cinta itu seharusnya tidak saling menyakiti, kan?

Anak laki-laki itu mendesah, matanya terpejam sesaat seiring desahannya yang nyata menunjukkan betapa berat dilema yang mereka hadapi, dan itu semua karena mereka saling menyayangi. Satu gerakan tangan dari gadisnya membuat anak laki-laki itu membuka matanya—gadisnya itu memaksakan sang lelaki untuk menatapnya, dengan sebuah gerakan lembut penuh arti ketika tangan halus itu menahan pipinya agar matanya bisa menatap jelas rasa kasih yang terpancar dari elok paras gadisnya itu. Detik berikutnya, anak lelaki itu hanya bisa terbelalak ketika sentuhan kedua berhasil dilandaskan… bibir gadisnya di bibirnya sendiri.

Ciuman itu tidak dilapisi dengan hasrat yang kentara. Tanpa variasi… tanpa… apapun. Tapi anak laki-laki itu bisa mengerti kedalaman rasa ketika dua kulit tebal itu menempel—Ya, sekedar menempel. Detik itu, sang lelaki mengerti. Segalanya. Tentang rasa sayang yang dimiliki gadisnya kepadanya, lah; tentang ego-ego mereka yang terus berputar dan bertabrakan, lah; tentang apa yang membuatnya begitu menyayangi gadisnya itu, lah; dan terutama… tentang apa yang harus dipilihnya untuk menjaga agar rasa sayang itu tetap bertahta di tempatnya yang seharusnya. Ya, ciuman tanpa hasrat yang menggebu itu justru memberikan banyak arti… baginya… bagi gadisnya… bagi mereka berdua.

“Kay,” ucapnya lirih kala bibir mereka berhenti bertautan. Anak laki-laki itu memandang lembut paras mempesona di hadapannya, bibirnya menyunggingkan senyum. “Kau seperti seorang malaikat, kau tahu. Seorang malaikat tanpa sayap. Aku tidak tahu… apakah Tuhan sengaja tidak memberimu sayap, agar kau tetap berada di sisiku selamanya? Apakah mungkin… Dia sengaja menyembunyikan sayapmu… karena Dia tahu aku akan mati jika kau tak ada di sisiku? Ataukah Dia hanya sekedar bermain-main, memberikan sayapmu padaku untuk kuberikan sendiri… dan membuatmu utuh sebagai seorang malaikat? Akankah kau kembali jika kukembalikan sayapmu… Kay? Kau pasti kembali… kan?”

Pun bila kau kembali sebagai malaikat maut yang mencabut nyawaku… rasanya tak mengapa. Karena memang begitulah cinta, kan?

Iklan

Read Full Post »

Kamu tahu tidak? Semalam, aku memimpikanmu… lagi.

pokoknya apdet ajalah

Read Full Post »

Kelas Ramuan

(lebih…)

Read Full Post »

Kenangan tanpa kejadian

Silahkan menikmati

Read Full Post »

Halo dunia!

Welcome to MusikLink. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Read Full Post »