Kamu tahu tidak? Semalam, aku memimpikanmu… lagi.
Iya, kamu. Aneh kan? Setelah malam-malam panjang yang berlalu tanpa ada sedikit pun bayangmu… kini kau muncul lagi. Aku tahu, aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk melupakanmu, untuk meredam semua rasa ini. Tapi, kita semua tahu. Aku, kamu… kita berdua tahu, kan? Tidak mungkin aku bisa melupakanmu begitu saja. Tidak setelah semua kehangatan yang kau tanamkan dalam hatiku yang dulu dingin. Tapi untuk melupakanmu… Aku tidak tahu aku masih bisa memaafkan diriku atau tidak, bila bayangmu bisa benar-benar hapus dari ingatanku. Sungguh, aku benci menyadari bahwa aku begitu terikat padamu. Aku bingung, sungguh, benar-benar bingung. Ini semua salahmu, atau salahku? Apa benar aku yang tidak bisa mengendalikan perasaankulah yang harus disalahkan, atau memang kamu yang terlalu indah untuk dianggap tidak pernah ada? Kamu itu menawan, entah kau sadar atau tidak. Senyummu begitu tulus dan mempesona, nyaris tanpa cela. Sorot matamu yang teduh tidak mungkin kulupakan. Aku ingat dengan segaris lengkung yang selalu membuatku merasa tengah ditelanjangi saat kau memandangku dengan mata itu. Dengan kesempurnaanmu yang tak akan pernah bisa kulawan itu, dosakah aku jika aku menganggapmu tidak pernah ada? Ahh… Membicarakan mimpiku tentangmu, memaksaku untuk membuka kembali ingatan akan kehangatanmu padaku. Semua kenangan itu membawaku kembali ke masa-masa itu. Sejujurnya aku benci membuka lembaran-lembaran itu. Mengenang kembali masa-masa dimana aku salah mengartikan kehangatanmu. Kau ingat tidak, kita tidak pernah bersama. Kau hanya sekedar bersikap baik padaku. Kau memang orang yang baik, dan aku salah mengartikan itu. Menjengkelkan mengingat aku tersipu malu dan menundukkan kepala saat kau bersikap begitu lembut padaku… dan juga pada orang-orang yang lain. Ya, pada dasarnya aku membencimu. Aku benci kau yang selalu bisa membuatku merasa begitu dicintai… Aku benci dirimu yang selalu kucintai. Bagaimanapun juga, ini semua hanya mimpi. Sepenggal kisah pada suatu malam, saat aku benar-benar sadar bahwa aku masih mencintaimu. Sebuah mimpi bodoh yang tidak berguna, sebuah perasaan yang benar-benar sepihak, tak berbalas. Manisnya mimpi yang kurasakan, sama nyatanya dengan dirimu yang tidak mungkin untuk duduk terbangun di tengah malam, memegang dadamu yang berdebar-debar karena memimpikanku. Aku sadar kau tidak akan pernah melakukannya, tidak selama kau masih mendekap erat tubuhnya dalam malam-malammu. Kupikir, aku hanya bisa mendekapmu dalam mimpi semata… Kupikir, aku masih akan memimpikanmu lagi… Kupikir… suatu saat aku akan tersenyum saat bayangmu tak lagi muncul dalam malam-malamku, terganti oleh kamu-kamu yang lain… kamu yang bisa kurengkuh, tak hanya dalam mimpi.
Ini fiksi!!! Fiksi!!!
oke ini fiksi.
eh, akhy kemaren habis mimpiinsi anuh kan?
Oke, ini fiksi yang ditulis berdasarkan kisah kehidupan akhy.
mimpiin si anu?
siapa ya? *unsure*
ihiy ihiy~
*gak tau ngomongin siapa*
:”>
hihi..rame2 pada bilang “ini fiksi”!
salam kenal ya mba..aku ngerumpi juga loh
Celo: Tuh ada temen ngerumpi yang manggil lw mbak juga
*komen OOT*